Sunday, February 28, 2016

Ketika Darrell di Diagnosa Kena Virus KAWASAKI

Assalamu alaikum...

Pengen sharing pengalaman minggu kemarin, saat si kecilku, Darrell harus di opname di rumah sakit Ibu dan Anak Soerya , Sidoarjo.

Kejadiannya di mulai ketika Minggu, 7 Februari kami mengunjungi keponakan yang terkena DBD di RS Haji Surabaya. Naik motor dan hujan2 hingga akhirnya pas ketemu yangtinya katanya badan Darrell agak hangat.
Saya raba, memang sih agak hangat, namun saat itu saya pikir mungkin karena kena hujan saat naik motor.
Hari Senin, badannya tetap hangat tapi gak cenderung panas.

Nantilah setelah hari Selasa, 9 Februari sore hari sepulang saya kerja saya terkejut meraba badannya yang panas tinggi. Saat itu dia masih mau makan meskipun sedikit, setelah makan saya beri Naprex lalu saya kelonin. Semalaman tidur gelisah, dan besok paginya badannya tetap panas tinggi dan mulutnya berbau tidap sedap.
Hari Rabu, 10 Februari saya masih memintanya wash lap saja, lalu dengan berat hati saya menitipkannya ke tempat penitipan biasanya.
Sorenya hujan2 saya menjemputnya, dan sedih banget karena panasnya masih tinggi, lalu saya intip ternyata bibirnya penuh sariawan, sediiihhh bangeeettt deh rasanya, Darrell cuman bisa makan sedikit saja. Lalu dia tertidur dengan mulutnya yang berbau tidak sedap meskipun saya sudah menyikat giginya dengan bersih.
Hari Kamis, 11 Februari dengan berlinang air mata saya menitipkan kembali di tempat penitipannya. badannya masih tetap panas. Hingga akhirnya malamnya saya dan suami memutuskan membawa Darrell ke dokter Hartoyo, SPA di tempat prakteknya di Taman Pondok Jati, Geluran, Sidoarjo. (Tarif Rp. 100,000 sekali konsultasi)
Oleh sang dokter di beri obat antibiotik Erysambe puyer, penurun panas Naprex syrup dan vitamin Imboost.
Lalu di minta kembali di hari Sabtu karena di curigai DBD, apalagi sekarang memang lagi banyaaakkk banget orang kena DBD.


Hari Jumat, 12 Februari si papi akhirnya ngalah gak ngantor demi jagain Darrell. panasnya udah mulai turun, bau mulutnya berkurang, tapi bibirnya jadi infeksi dan berdarah karena pecah2. Setelah diskusi ama kakak Jouke yang seorang perawat di RS Palagimata BauBau yang mana anaknya juga pernah sariawan parah kayak Darrell, saya lalu membeli Nystatin Drop dan meminta Darrell untuk kumur2 dengan itu.
Hari Sabtu pagi, kami balik lagi ke dokter Hartoyo, SPA. Setelah menunggu sangat lama, kami lalu bertemu sang dokter dan beliau mengatakan tidak perlu test darah karena panasnya sudah hilang. Oleh si dokter di beri lagi obat Diflucan dan Equal puyer serta vitamin Starmuno syrup.
Hari Minggu dan Senin keadaan bibirnya gak ada tanda2 membaik, malah semakin parah karena Darrell gak bisa makan, ternyata sariawan bukan hanya ada di bibirnya, di lidah dan leherpun banyak.

Hari Selasa, 16 Februari saya masuk kerja setengah hari, Darrell di jaga papinya yang ngalah gak masuk kerja. Kami sudah gak tahan melihat penderitaan anak kami yang kesulitan makan, sedang Darrell mengeluh lapar.
Akhirnya setelah tanya2, kakak ipar saya menyarankan ke dokter anak langganan anaknya di RS Delta Surya Sidoarjo, namun si papi salah ngomong ke saya, katanya di RS Soerya.
Langsung deh sepulang kantor saya mampir untuk daftar, ada 2 dokter anak yang praktek nanti malamnya.
1 dokter spesialis anak dan 1 professor. Karena sudah dua kali ke dokter spesialis anak, saya akhirnya memilih professor Soegeng.

Malamnya, kami lalu ke RSIA Soerya, dan kurleb pukul 20.00 giliran kami bertemu sang profesor.
Saya lalu memberitahukan keluhan anak saya, tak lupa saya memperlihatkan obat2an yang sudah diberikan oleh dokter sebelumnya.
Prof DR. dr. H. Soegeng Soegijanto Sp.A(K) sangat ramah, beliau memeriksa secara teliti. Beliau lalu menyarankan untuk segera opname agar bisa di infus dan sariawannya cepat sembuh. Namun beliau juga mengatakan kalau punya kelenjar (entah apa maksudnya, mungkin kelenjarnya sedikit infeksi karena sariawannya yang parah). Dan katanya Darrell terkena virus KAWASAKI.
Setelah membayar tarif beliau (Rp. 200,000 per konsultasi), kami lalu keluar dan mengikuti petunjuk suster untuk memesan kamar untuk opname.

Saya dan suami memang sudah berniat untuk opname, paling tidak agar Darrell bisa mendapatkan cairan agar tidak dehidrasi dan agar sariawannya cepat sembuh. Jadi tidaklah terlalu shock saat tau harus opname. Setelah urus administrasi yang ternyata kami hanya bisa mendapatkan kamar kelas 3 karena yang lain penuh. Darrell lalu di bawa ke UGD untuk di infus dan di ambil darahnya. Alhamdulillah dia tenang dan gak nangis, padahal emaknya aslinya mau nangis, hiks.

Saya berusaha untuk berpikiran positif saja dan nurut apa kata prof nya, meskipun saat di bawah ke kamar lantai 3 melalui tangga karena gak ada lift hingga ngos2an lalu bertemu dengan kamar yang lumayan gerah karena cuman ada 1 kipas yang menemani. Kamarnya berisi 4 ranjang pasien, namun Alhamdulillah tidak ada nyamuk dan pasien lainnya hanya menderita penyakit types.

Saya sedikit shock waktu papi akhirnya selesai menebus obat dan datang bersama seabrek obat2an. Tebusan obat pertama senilai nyaris Rp. 800,000. Dan obat yang didapatkan ada 4 macam,2 antibiotik syrup, 1 vitamin C syrup dan segepok puyer buat kelenjar (gak tau maksudnya kelenjar apa, hiks)

Pukul 21.00 cairan infus Darrell diganti oleh cairan antibiotik. Hhhhhh.... tetap berpikiran positif meskipun hati teriris2 melihat antibiotik yang seabrek itu.
Alhamdulillah, suster2 yang bertugas di lantai 3 tersebut ramah2 dan rajin2. Jadi hati yang sedikit galau bisa tenang. Ditambah saya juga sudah mulai merasa menggigil dan mulai merasa ikutan drop.



Alhamdulillah, hari Rabu 17 Februari setelah 12 jam di infus, Darrell udah bisa mulai makan sedikit2, obat2annya yang seabrek itu tetap saya ber untuk di minum, meskipun Darrell udah bosan banget minum obat lebih seminggu. Sayangnya di pukul 12.00 seorang pasien masuk dan menempati ranjang tepat di samping Darrell, seorang bayi berusia 4 bulan yang terkena types. Dan tangisannya bikin kepala saya bagai dipentungin orang sekampung. Akhirnya sekitar pukul 14.00 suster memberitahu kami kalau ada kamar kosong di bawah, di kelas I tepatnya. Harganya Rp. 300,000 per malam.

Karena sudah gak tahan dengar tangisan si bayi kami lalu mengiyakan untuk pindah, lumayan... kelas I katanya 1 kamar 1 ranjang pasien dan ada ranjang penunggu pula.
Namun betapa shock nya saya ketika sampai di kamar yang di maksud, hiksss... namanya sih kelas I, tapi letaknya di gudang belakang dong... gak ada ventilasi udara langsung, hanya ada glassroof yang bikin sinar matahari masuk ruangan. Dan yang lebih bikin stres adalaaahhh.... nyamuknya seabrek.... huwaaaaaa......
Yang bener sajaaa... bisa2 ketambahan DBD nih :'(

Saya gak bisa ngomel berkepanjangan, karena mulai sore saya sudah gak bisa nahan sakit kepala beserta panas dingin di badan. Setelah sholat saya makan dan minum parasetamol dan amoxylin namun gak ada perubahan sedikitpun.
Untungnya Darrell sudah bisa makan, bibirnya yang infeksi langsung mengering dan terkelupas, bahkan di hari rabu malam dia sudah bisa makan ayam goreng kesukaannya tanpa mengeluh leher dan lidahnya sakit.

Kamis pagi saya ke dokter umum di UGD, tenggorokan saya sakiiittt banget, kata dokter saya kecapekan dan diberi antibiotik Zibramax yang harganya selangit 3 biji, Mefix Cap dan Lameson.
Ketika balik di kamar saya liat di kaca langsung shock, tenggorokan saya penuh sariawan, bahkan di amandel saya putih semua bahkan ada bintik2 seperti jerawat, sakitnya gak usah ditanyakan deh.

Selama Kamis dan Jumat saya benar2 gak berdaya, sang Profesor yang mengobati anak saya menyarankan saya periksa darah lalu ke dokter spesialis untuk periksa lebih lanjut, karena menurut beliau saya ketularan anak saya terkena virus Kawasaki.
Karena ribet ditambah stres harga obatnya selangit (setiap hari harus nebus antibiotik yang dimasukan ke cairan infus kurleb 500rb) akhirnya saya memutuskan gak mau ikutan di rawat di situ, terlebih lagi saya stres dengan nyamuk yang seabrek plus kamar mandinya yang penuh kerak saking gak pernah di sikat kali yaa....

Hari Jumat saya minta pulang, namun si profesor melarang, akhirnya Sabtu 20 Februari saya bersikeras minta pulang melihat Darrell yang sudah baikan, ceria dan bosan banget di kamar tersebut.
Sang profesor akhirnya ngalah, namun menyarankan untuk foto rontgen dulu karena Darrell kurus banget, di khawatirkan dia menderita TBC, langsung kesal deh saya... aneh2 sajaaa... kalaupun ada indikasi seperti itu, kenapa pas udah mau pulang baru disuruh? apa emang kita disuruh stay lebih lama di RS?
Kalau gratis sih gak masalahhhhh... hhhhhh....

Sabtu siang saya mulai agak enakan, saya bisa bangun untuk buka laptop dan mulailah saya kepo ingin tahu apa sih virus Kawasaki itu?
Dan hasilnya saya jadi ternganga...

Dari berbagai testimoni ibu2 yang anaknya terkena virus tersebut, gejalanya sangatlah jauh berbeda dengan gejala anak saya
Oh ya, hasil test darah Darrell di hari pertama positif ada bakteri Salmonella yang berarti Darrell menderita types. Hasil test yang lain terlihat normal selain Limfositnya yang tinggi sampai 60, sedang batas normalnya adalah 20-40 (menurut hasil lab)
Menurut prof nya, limfositnya tinggi karena virus Kawasaki tersebut.

Lalu saya bandingkan dengan gejala dari testimoni banyak ibu2 yang anaknya terkena positif virus Kawasaki berdasarkan hasil test darah, rekam jantung, urin dan test fungsi hati.
Darrell mah cuman test darah sudah di vonis Kawasaki :(

Gejala penyakit Kawasaki :
• Demam yang turun-naik, tetapi biasanya diatas 39° Celsius, sifatnya menetap (lebih dari 5 hari) dan tidak memberikan respon terhadap asetaminofen maupun ibuprofen dalam dosis normal ---( Darrell demam tinggi mulai Selasa malam - Kamis malam, sedikit turun saat di beri Naprex yang kandungannya parasetamol, setelah itu gak pernah demam lagi)
• Rewel, tampak mengantuk ---(Darrell rewel namun gak melulu ngantuk)
• Kadang timbul nyeri kram perut ---(satu2nya keluhan di bagian perutnya adalah Darrell lapar tapi gak bisa makan karena bibir, lidah dan lehernya sakit penuh sariawan)
• Ruam kulit di batang tubuh dan di sekeliling daerah yang tertutup popok ---(sama sekali gak ada ruam kulit pada Darrell)
• Ruam pada selaput lendir (misalnya lapisan mulut dan vagina) --- (Bibirnya infeksi di mulai dari pecah2 karena dehidrasi ringan)
• Tenggorokan tampak merah-- (tenggorokan penuh sariawan)
• Bibir merah, kering dan pecah-pecah -- (bibir kering, pecah2 dan infeksi)
• Lidah tampak merah (strawberry-red tongue), -- (lidah putih dan sakit karena sariawan)
• Kedua mata menjadi merah, tanpa disertai keluarnya kotoran. --- (matanya sehat2 saja)
• Telapak tangan dan telapak kaki tampak merah, tangan dan kaki membengkak --- (seluruh tubuh dan kulit baik2 saja)
• Kulit pada jari tangan dan jari kaki mengelupas (pada hari ke 10-20) --- (seluruh tubuh dan kulit baik2 saja, Alhamdulillah)
• Pembengkakan kelenjar getah bening leher --- (menurut profesornya bengkak, saya sendiri kurang begitu mengerti, namun hingga saat ini Darrell masih konsumsi obat kelenjar tersebut hingga 6 bulan ke depan)
• Nyeri persendian (atralgia) dan pembengkakan, seringkali simetris (pada sisi tubuh kiri dan kanan). -- (keluhannya hanya lapaarrr dan mulutnya sakit).




Entahlaaahhh, saya bingungg... yang mengvonis Darrell kena virus Kawasaki itu adalah seorang professor, seorang guru besar di kedokteran Unair..
Tapi saya bingung, gejalanya kok lain yaaa... atau mungkin anak saya cuman terkena gejala saja? entahlaaahhh...


Yang pasti, saya sangat bersyukur Darrell sekarang sudah sembuh dan ceria seperti biasa, makannya sih tetap seperti biasa, kadang banyaaakkk, kadang susaaahh...
Badannya juga masih kurus, hellooowwwww bapaknyeee kuruuusss jugaaahhh plus kemaren gak makan sama sekali selama kurleb 3 hari... :(


Semoga ke depannya Darrell selalu diberi kesehatan olehNya, sehat selalu ya sayanggg.... sesungguhnya hati mami tergores2 melihatmu sakit :(


Justru nih ya, yang harus di curigai ada virus aneh ya saya, sampai saya menulis tulisan ini, sariawan yang saya derita masih ada meski tinggal di rongga mulut, sudah nyaris 2 minggu dong belum sembuh, lalu di belakang telinga saya agak ke bawah dikit terasa sakit (maybe itu kelenjar getah bening yang infeksi gegara sariawan gak sembuh2).
Dan saya baru ingat, sekitar 2 bulan lalu saya pernah menderita bercak2 seluruh tubuh, awalnya saya pikir campak, tapi saya sama sekali gak panas, bahkan saat itu mata saya nyaris merah.
Apa mungkin saya yang kena virus aneh?


Ya sudahlaaahhh....
Pake sugesti saja kalau saya sehat2 saja, lagian bosan, udah ganti 2 dokter obatnya sama saja. Sudah bosan rasanya minum antibiotik, sekarang malah pas sariawan di tenggorokan hilang keganti ama pilek tanpa henti sampai kepala sakit, maybe saya juga kena sinusitis? hahahaha...


Gak laahhh... insya Allah saya sehat.... Aamiin.... :)

5 comments:

  1. Hi Mba, salam kenal yaaa
    Sama mba, aku juga punya pengalaman kurang menyenangkan opname di RS Soeryo ditanganin sama Prof Sugeng itu.

    Jadi gini, anak aku waktu itu umur 6 bulan, awal-awal mpasi. Sepulang dr kantor, aku pegang badan dia kok anget, trus aku termo panasnya 36,5 dan semakin lama panasnya makin tinggi yah.

    Emang dasarnya belum pengalaman ya, waktu panasnya 38,5 aku langsung bawa ke rs mba, dan waktu itu cuma kepikiran cari dsa yang paling bagus, dan ya udahlah ya mungkin di rs soeryo bagus krn rs ibu dan anak.

    Bener loh nyampe rs panasnya udah 39, di periksa sama dokter sugeng itu dan langsung di suruh opname, indikasi awalnya db krn panasnya tinggi..

    Disuruh infus dan cek darah. Ampuuun ga tega banget...anak aku langsung jerit2 begituu, pengen nangis deh rasanya

    ReplyDelete
  2. Akhirnya opname di kamar kelas 1 mba, kamarnya kecil dan sempit, besoknya pas hasil tes darah keluar db nya negatif tuh tapi emang leukositnya agak tinggi yang kemungkinan ada infeksi.

    Tapi anehnya tiap pagi anakku suruh diambil darahnya, aku ga mau dong secara dia panasnya udah turun dan ga keliatan sakit.

    Berantemlah aku sama dokternya, di bilangnya aku memperkosa anaklah karena ga pengen anaknya sembuh, dll. Aku juga sempat minta pulang aja waktu itu tapi ga di ijinin mba karena dibilangnya aku ibu yang tdk peduli kesehatan anak dll, aneh banget deh masak prof auranya negatif banget sih, ga kasih sugest positif ke pasiennya.

    Dan tetep aku ga bs pulang mba karena aku pake asuransi yang harus ada surat pernyataan dr dokter klo anak sudah sehat dan dia ga mau taken asuransiku mba, bener2 nyebelin banget..

    Akhirnya 5 hari anakku opname di rs dengan indikasi medis yang ga jelas banget, masak setiap orang yang masuk rs indikasinya cuma 2 typus dan dbd, ampuuun dah...

    Sepulang dr rs, aku baru tau anakku kena sakit roseolaaa, welaaah.. Tau gitu ga perlu di opname juga udah sembuh kan yaaa...

    Pengalaman banget deh di rs itu, kagak jelas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba, salam kenal.
      makasih udah mampir di blog saya.
      Emang rempong ya cari dokter anak yang pas dan cocok hiks 😂😂

      Delete
  3. Baru comentt...dan pngaalaman yg sama , ankku dbilang TBC dan.hars terapi obat seabrekkkk , pdhl Dr.Hartoyo anak sehat. Pnyesalan trdalam anakku dkhitan smula pake alat laser sampe tengah2 bilang alat rusat dan harus manual, ketika darah membanjir profesor. Ilang maaf saya seumur2 tdk pnh khitan baby manual.hiksssssssssssss

    ReplyDelete